Kamis, 11 April 2013

Perjalanan Yogyakarta - Sidoarjo (5 April 2013)

Setelah sebelumnya menempuh perjalanan dari Cirebon menuju Yogykarta, pada hari Rabu, 3 April 2013. Pengurusan penggantian Ijazah juga diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kini waktunya melanjutkan perjalanan pulang menuju Sidoarjo.

Pada hari yang direncanakan, yaitu Jumat, 5 April 2013. Segala persiapan packing barang sudah disiapkan sejak Kamis malam, sehingga keesokan harinya tinggal fokus pada keberangkatan.

Pukul 04:30
Bangun pagi, mandi, Shalat Shubuh, dan memastikan persiapan kecil lainnya.

Pukul 07:00
Mengajak anak-anak untuk menyantap sarapan pagi di sebuah kedai Mie Rebus. Suasana kedai seperti layaknya berada di Jawa Barat dengan logat dan bahasa sundanya, maklum penjualnya berasal dari kota Kuningan - Jawa Barat. *tetangga Cirebon arah selatan*

Sedangkan istri menghabiskan sarapan jatah dari hotel. Selebihnya dibawa sebagai bekal perjalanan. *jalan sambil makan, dan makan sambil jalan*

Pukul 09:00
Sesuai waktu yang direncanakan, keberangkatan pun dimulai.


Melewati Ring-Road Utara kota Yogyakarta, melewati UPN diiringi cerita-cerita masa lalu pada saat masih kuliah dulu. Daerah Maguwoharjo pun tak luput dari pembicaraan, dikarenakan pada saat bersamaan ada event Komunitas Home Schooling, yang beberapa anggotanya adalah teman dari ibu anak-anak.

Selepas Ring-Road Utara diteruskan menuju Klaten. Jalan yang ditempuh sangat lebar dan nyaman, hanya harus sering dihentikan lampu merah yang terpasang tidak terlalu jauh antara satu dan lainnya.

Yang menarik dari perjalanan ini adalah ketika melewati kawasan candi Prambanan. Dikarenakan bangunan candi tidak terlihat dari jalan raya, dan tidak direncanakan untuk berhenti, akhirnya membuat penasaran anak pertama - Fauzan - yang terus bertanya soal tinggi, bentuk, material, bahkan dibanding-bandingkan dengan gedung, hotel, maupun gunung.

Pukul 10:00
Kota Klaten telah dilewati, masih dengan hambatan lampu merah selang beberapa meter.


Ketika sampai di Kartosuro, pembicaraan berlangsung seputar pengalaman pendakian Gunung Merapi selama kuliah. Hingga tidak terasa memasuki kota Surakarta.

Bangunan Universitas Muhamadiyah Surakarta tampak dari jalan, mengingatkan perjuangan teman yang harus menempuh perjalanan Yogyakarta - Solo sebagai tenaga pengajar.

Pukul 11:00
Kota Surakarta pun sudah dilewati, melalui jalan yang sempit dan berliku. Tampak rambu-rambu jalan yang kurang informatif, sehingga perjalanan mengikuti naluri, yaitu mengikuti arus kendaraan-kendaraan besar.


Memasuki kota Sragen, sudah mulai terpikirkan rencana untuk menunaikan ibadah shalat Jumat. Kondisi jalan yang lebih lebar dan rata membuat perjalanan lebih nyaman dan kendaraan dapat dipacu sekitar 80 km/jam.

Pukul 12:00
Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur membuat perasaan sedikit lega. Karena aroma tempat tinggal kian terasa walaupun perjalanan belum setengahnya.


Memasuki kota Ngawi dihadapkan dengan pilihan untuk menentukan tempat pemberhentian. Pertimbangannya adalah lahan parkir dan tempat kuliner. Beberapa alternatif diantaranya pesantren Gontor, yang pada akhirnya terus dilanjutkan hingga sampai di Masjid Raya Ngawi.

Akhirnya ibadah sholat Jumat selesai dilaksanakan dengan khusyu, sedangkan istri dan anak-anak menyantap hidangan makan siang di warung makan sebelah masjid.

Pukul 14:00
Santap makan siang selesai, waktunya melanjutkan perjalanan.


Arah yang diambil adalah menuju Caruban, bukan kota Madiun. Berbekal pembacaan peta Google Maps (bersyukur adanya teknologi Maps tersebut), pemilihan jalan jadi lebih mudah.

Bahkan ketika sampai di Kabupaten Madiun, pemilihan jalan alterntif merupakan solusi yang tepat. Jalan yang lengang dan tanpa hambatan, akhirnya segera menemukan jalan utama secara singkat dan tanpa membuang waktu terlalu banyak.

Hingga sampai di kota Nganjuk, yang saya ingat adalah pusat penghasil bawang merahnya.

Pukul 15:00
Ketika mulai memasuki kota Jombang, keceriaan mulai tampak dari suasana dalam kendaraan.


Membelah kota menjadi pemandangan tersendiri, maklum istri sangat tersita perhatiannya ketika ada marka jalan menuju pemakanan Gus Dur. Perjalanan pun makin tidak terasa berkat pembicaraan terkait tokoh nasional tersebut.

Pukul 16:00
Kota Mojokerto sudah dilewati, persiapan menuju perbatasan kota Sidoarjo.


Ketika melewati perbatasan Mojokerto - Sidoarjo, suasana dalam kendaraan makin hidup. Berbekal Google Maps diputuskan mencari persimpangan Krian dan menuju kota Sidoarjo.

Memasuki kota Sidoarjo, keputusan dalam menentukan jalan menjadi bias. Hal ini dikarenakan ada marka jalan yang bertuliskan "SIDOARJO JALAN ALTERNATIF" menuju arah kiri. Terlintas dipikiran bahwa kalau jalan lurus akan menemukan jalan utama. Hingga tanpa sadar perjalanan mengarah menuju Malang.

Pukul 17:00
Sadar akan kesalahan pemilihan jalan, akhirnya diputuskan mencari jalan sewaktu perjalanan menuju Trawas. Diantara keremangan senja, jalan yang dimaksud ditemukan dan perjalanan dilanjutkan.

Pukul 18:00
Dengan sedikit kecewa karena salah dalam memilih arah, sampai juga di rumah.

Waktunya istirahat dan makan malam.

- Selesai -

Rabu, 10 April 2013

Perjalanan Cirebon - Yogyakarta (3 April 2013)

Dilanjutkan Perjalanan dari Yogyakarta ke Sidoarjo.

Perjalanan ini dalam rangka kembali atau pulang ke Sidoarjo. Sengaja direncanakan untuk singgah di Kota Gudeg, dikarenakan ada keperluan pengurusan Ijazah di Universitas Gadjah Mada - Sebagai pengganti Ijazah yang hilang.. *sedih*

Segala persiapan sudah selesai di malam hari, hingga tepat pada hari Rabu, 3 April 2013 perjalanan dimulai. Dengan Saya didamping istri dan ketiga anak saya, yang paling kecil masih berumur 4 bulan.

Pukul 4:30
Bangun pagi, sholat shubuh, persiapan keberangkatan.. Bismillah.

Pukul 6:10
Berangkat dari rumah orang tua, menuju pintu tol Plumbon sebagai titik awal keberangkatan - sampai mengabaikan sarapan pagi.. *lapar*


Perjalanan terus berlangsung lancar, maklum namanya juga jalan tol memang seharusnya bebas hambatan. Kecepatan laju saya jaga sekitar 80 km/jam, dengan tujuan kenyamanan penumpang terjaga.

Dan pada akhirnya sampai pintu tol kanci, dilanjutkan menuju tol bakrie.

Kilometer pada kendaraan menunjukkan 78km, tepat sudah sampai pintu tol (lupa mencatat namanya) - sebagai garis finish tol bakrie.

Pukul 7:00
Selepas pintu tol bakrie, perjalanan dilanjutkan menuju Ketanggungan. Dengan terlebih dari mengisi bahan bakar.


Setelah melewati Ketanggungan, mulailah bertemu jalan berlubang disana-sini. Sehingga bisa dikatakan rusak parah. Tapi masih terobati pemandangan sawah yang membentang luas, diiringi sungai dengan segala aktifitas penduduk sekitar, dan dibalut cerahnya pagi hari.

Disinilah tingkat kesabaran diuji, dan dituntut kewaspadaan lebih dalam melewati jengkal demi jengkal aspalt yang rusak dan berlumpur.

Hingga pada akhirnya semua kesulitan terlewati setelah perjalanan tiba di daerah Margasari.

Pukul 10:00
Penderitaan berkendara di jalan rusak selama 3 jam sudah terlewati. Hingga pada akhirnya menemukan jalan yang layak pakai, dalam hal ini berkendara kembali dapat dipacu 40 - 70 km/jam.


Terlintas rencana sarapan pagi pada pukul 9, pada akhirnya tidak terlaksana. Juga sempat diputuskan untuk berhenti di kota Bumiayu, hanya sekedar mencari makanan pengisi perut yang mulai keroncongan. Pertimbangannya terutama bagi anak-anak, yang harus segera menemukan makanan.

Dengan perbekalan yang dibawa dari rumah orang tua, akhirnya perjalanan dilanjutkan tanpa berhenti. Dikarenakan anak-anak sudah mendapatkan camilan sebagai ganjal-ganjal isi perut.

Pukul 12:00
Sampai di Ajibarang, mulai tampak keramaian. Dan perjalanan terhenti oleh deretan pedagang kaki lima. Saya lebih memilih Bubur Ayam Cirebon, sedangkan istri dan anak-anak menyantap Mie Ayam.

Disaat menikmati hidangan, insiden anak kedua - Aisyah - Muntah. Diperkirakan karena masuk angin, karena lupa sarapan tadi pagi. Dilanjutkan anak pertama - Fauzan - buang air besar di celana. Hmmm.. sungguh direpotkan dengan hal kecil seperti ini.

Pukul 13:00
Perjalan kembali dilanjutkan menuju arah Wangon. Sengaja tidak mengambil arah kota Purwokerto.


Disinilah mulai dilanjutkan perjalanan dengan sedikit ramai kendaraan besar. Tanpa hambatan berarti hingga sampai kota Gombong.

Pukul 15:00
Kota Gombong sudah dilewati, sampailah di kota Purworejo.


Lewat sedikit dari kota Purworejo, ada sebuah masjid kecil yang kurang terawat namun cukup luas lahan parkirnya. Diputuskan untuk istirahat untuk sholat dhuhur dan ashar, dilanjutkan rebahan badan. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk menetralisir suasana perjalanan panjang yang melelahkan, diisi dengan senda gurau anak-anak.

Pukul 16:00
Perjalanan kembali dilanjutkan, dengan sebelumnya anak-anak selesai makan roti dan minum obat anti masuk angin.


Hingga melewati perbatasan Provinsi DIY ditandai dengan tugu selamat datang kota Kulon Progo. Suasana ceria dari dalam kendaraan mulai tampak seiring dengan nuansa Yogyakarta yang berasa akan keramahtamahannya.

Pukul 16:30
Mulai memasuki kota Yogyakarta, diputuskan untuk berhenti disebuah ATM untuk persiapan pembayaran ketika tiba di hotel.

Sedikit bertanya-tanya ke petugas parkir, akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju hotel yang direkomendasikan salah satu teman.

Setiba di hotel, lokasi yang kurang sesuai harapan. Akhirnya diputuskan untuk mencari alternatif sebagai pengganti.

Pukul 18:00
Pencarian hotel disudahi dengan diputuskan menginap di Vee Hotel, dengan pertimbangan tarif sesuai kantong.

Segala kelelahan hilang, berganti dengan keceriaan akan rencana-rencana aktifitas selama di kota Yogyakarta.

- Selesai -

Selasa, 02 Oktober 2012

Komposisi dalam Fotografi

Dalam dunia fotografi tidak sedikit fotografer apalagi yang masih pemula , seolah terlena pada hal-hal yang bersifat teknis saja, seperti mengatur bukaan diafragma (Aperture), pengaturan kecepatan (Shutter Speed), dan pengaturan jarak. Mungkin juga, selama ini tidak terpikirkan bahwa di dalam foto itu terkandung nilai-nilai tertentu yang dapat membuat foto itu bagus atau sebaliknya menjadi berantakan. Salah satunya adalah pengaturan komposisi. Mungkin belum pernah membayangkan, bahwa dengan pengaturan komposisi sesungguhnya dapat ditonjolkan subyek utama. Bahkan tidak jarang akan mendukung keberhasilan foto-foto yang kita buat.

Definisi Komposisi

Komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar, elemen-elemen ini  mencakup garis, bentuk, warna, terang dan gelap. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact (sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang Anda inginkan untuk berekspresi dalam foto). Dengan komposisi, foto akan tampak lebih menarik dan enak dipandang dengan pengaturan letak dan perbandingan obyek-obyek yang mendukung dalam suatu foto. Dengan demikian perlu menata sedemikian rupa agar tujuan dapat tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatu mengejutkan. Dalam komposisi selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik perhatian.

Tujuan Mengatur Komposisi dalam Fotografi


  1. Dengan mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun "mood" suatu foto dan keseimbangan keseluruhan obyek foto.
  2. Menyusun perwujudan ide menjadi sebuah penyusunan gambar yang baik sehingga terwujud sebuah kesatuan (unity) dalam karya.
  3. Melatih kepekaan mata untuk menangkap berbagai unsur dan mengasah rasa estetika dalam pribadi pemotret.

Jenis-Jenis Komposisi :


1. Garis
Komposisi ini terbentuk dari pengemasan garis secara dinamis baik garis lurus, melingkar/melengkung. Biasanya komposisi ini bisa menimbulkan kesan mendalam dan kesan gerak pada sebuah obyek foto. Ketika garis-garis itu digunakan sebagai subyek, yang terjadi adalah foto menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar. Yang penting garis-garis itu menjadi dinamis.

2. Bentuk
Komposisi ini biasanya dipakai fotografer untuk memberikan penekanan secara visual kualitas abstrak terhadap sebuah obyek foto. Biasanya bentuk yang paling sering dijadikan sebagai komposisi adalah kotak dan lingkaran.

3. Warna
Warna memberikan sebuah kesan yang elegan dan dinamis pada sebuah foto apabila dikomposisikan dengan baik. Kadang kala komposisi warna dapat pula memberikan kesan anggun serta mampu dengan sempurna memunculkan "mood color" (keserasian warna) sebuah foto terutama pada foto-foto "pictorial" (Foto yang menonjolkan unsur keindahan).

4. Gelap dan Terang
Komposisi ini sebenarnya dipakai oleh fotografer pada era fotografi analog masih berkembang pesat terutama pada pemotretan hitam putih. Namun, sekarang ini, ditengah-tengah era digital komposisi ini mulai diterapkan kembali. Kini pengkomposisian gelap dan terang digunakan sebagai penekanan visualitas sebuah obyek. Kita dapat menggunakan komposisi ini dengan baik apabila kita mampu memperhatikan kontras sebuah obyek dan harus memperhatikan lingkungan sekitar obyek yang dirasa mengganggu yang sekiranya menjadikan permainan gelap terang sebuah foto akan hilang.

5. Tekstur
Yaitu tatanan yang memberikan kesan tentang keadaan permukaan suatu benda (halus, kasar, beraturan, tidak beraturan, tajam, lembut, dsb). Tekstur akan tampak dari gelap terang atau bayangan dan kontras yang timbul dari pencahayaan pada saat pemotretan.

Penerapan Komposisi dalam Pemotretan

Dalam pengemasan sebuah foto agar terkesan dinamis dan menimbulkan keserasian perlu sebuah pemahaman tentang kaidah-kaidah komposisi, yaitu antara lain :

Rule of Thirds (Sepertiga Bagian / Rumus Pertigaan)
Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan obyek pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang umum dilakukan dimana kita selalu menempatkan obyek di tengah-tengah bidang foto.

Sudut Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan obyek. Sudut pengambilan obyek ini sangat ditentukan tujuan pemotretan. Maka dari itu jika kita mendapatkan satu moment dan ingin mendapatkan hasil terbaik, jangan pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standard (sejajar dengan obyek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping sampai kepada sudut yang ekstrim.

Format : Horizontal dan Vertikal
Proporsi persegi panjang pada view finder pada kamera memungkinkan kita untuk memotret dengan menggunakan format landscape (horisontal) maupun portrait (vertikal). Format pengambilan gambar dapat menimbulkan efek berbeda pada komposisi akhir.

Dimensi
Meskipun foto bercerita dua dimensi, yang artinya semua terekam di atas satu bidang. Namun, sebenarnya foto dapat dibuat terkesan memiliki kedalaman, seolah-olah dimensi ketiga. Unsur utama membentuk dimensi adalah jarak. Dimensi dapat terbentuk apabila adanya jarak, jika kita menampilkan suatu obyek dalam suatu dimensi maka akan terbentuk jarak dalam setiap elemennya. Untuk membuat suatu dimensi diperlukan adanya permainan ruang tajam, permainan gelap terang dan garis.

Sudut Pengambilan Gambar (Camera Angle)

Dalam fotografi agar foto yang kita hasilkan memiliki nilai dan terkesan indah harus diperhatikan mengenai masalah penggunaan sudut pengambilan gambar yang baik. Dalam fotografi dikenal 5 sudut pengambilan gambar yang mendasar, yaitu :

Bird Eye
Sudut pengambilan gambar ini, posisi obyek di bawah / lebih rendah dari kita berdiri. Biasanya sudut pengambilan gambar ini digunakan untuk menunjukkan apa yang sedang dilakukan obyek (HI), elemen apa saja yang ada di sekitar obyek, dan pemberian kesan perbandingan antara overview (keseluruhan) lingkungan dengan POI (Point of Interest).

High Angle
Pandangan tinggi. Artinya, pemotret berada pada posisi lebih tinggi dari obyek foto.

Eye Level
Sudut pengambilan gambar yang dimana obyek dan kamera sejajar / sama seperti mata memandang. Biasanya digunakan untuk menghasilkan kesan menyeluruh dan merata terhadap background sebuah obyek, menonjolkan sisi ekspresif dari sebuah obyek (HI), dan biasanya sudut pemotretan ini juga dimaksudkan untuk memposisikan kamera sejajar dengan mata obyek yang lebih rendah dari pada kita, misalnya anak-anak.

Low Angle
Pemotretan dilakukan dari bawah. Sudut pemotretan yang dimana obyek lebih tinggi dari posisi kamera. Sudut pengambilan gambar ini digunakan untuk memotret arsitektur sebuah bangunan agar terkesan kokoh, megah dan menjulang. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat pula digunakan untuk pemotretan model agar terkesan elegan dan anggun.

Frog Eye
Sudut penglihatan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Biasanya memotret seperti ini dilakukan dalam peperangan dan untuk memotret flora dan fauna.